kerajaan hindu-budha di indonesia

KERAJAAN KUTAI

– Letak : di daerah Muarakaman tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
– Sumber sejarah : tujuh buah prasasti yang tertulis pada Yupa, Yupa adalah tiang/tonggak kayu yang dipergunakan untuk menambatkan binatang kurban. Prasasti ini ditulis dengan bahasa Sansekerta dan tulisan Pallawa. Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu yang pertama di Indonesia dan mulai tumbuh sekitar tahun 400 M. agama Hindu yang tersiar di Kalimantan (Kutai) adalah dari India Selatan dengan bukti :
– Prasasti dengan tulisan Pallawa, hanya digunakan di India Selatan.
– Adanya kata Waprakeswara (lapangan suci Dewa Shiwa) yaitu suatu tempat suci yang berhubungan dengan Trimurti.
– Penggunaan nama berakhiran Warman adalah kebiasaan orang India Selatan.
• Sehingga dari prasasti tersebut kita dapat menyimpulkan :
– Raja Kudungga memiliki seorang anak yang bernama Aswawarman. Asmawarman mempunyai tiga anak dan salah satunya adalah Mulawarman.
– Pendiri keluarga kerajaan/Wangsakarta : Aswawarman.
– Agama yang dipeluk berasal dari India.
– Agama yang dianut raja Mulawarman : agama Siwa.
• Raja Kudungga menggunakan nama asli Indonesia, sedang keturunannya memakai nama Hindu

KERAJAAN TARUMANEGARA

– Letak : antara sungai Citarum-Cisadane (prasasti) sedangkan Purbacaraka berdasarkan prasasti tugu, terletak di daerah Bekasi.
– Sumber sejarah : a. Prasasti
• b. Berita Cina
• Sumber Prasasti ada 7 buah prasasti yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Tujuh prasasti tersebut adalah :
– Prasasti Ciaruteun, pada prasasti ini didapatkan sepasang telapak kaki raja Purnawarman.
– Prasasti Kebon Kopi, pada prasasti ini ditemukan pahatan gambar tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata.
– Prasasti Jambu, prasasti ini menerangkan bahwa raja Purnawarman itu gagah, pemimpin yang termashur.
– Prasasti Tugu, prasasti ini menerangkan tentang penggalian saluran Gomati dan sungai Candrabaga.
– Prasasti Pasir Awi, prasasti ini ditemukan di daerah Bogor.
– Prasasti Muara Cianten, ditemukan di daerah Bogor.
– Prasasti Lebak, menerangkan tentang keperwiraan, keagungan dan keberanian Purnawarman.
• Sumber berita Cina
– Tulisan Fa Hien, seorang musafir Cina menulis bahwa di Yepoti (Jawa Dwipa) hanya sedikit orang yang beragama Budha, tetapi kaum Brahmana lebih banyak.
– Berita dari Dinasti Sui yang menyebutkan bahwa Tolomo (Taruma) mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 528 M, dan 535 M.
– Berita dari Dinasti Tang, menyebutkan bahwa pada tahun 666 M utusan Tolomo datang ke China.
• Pemerintahan dan Kehidupan Masyarakat
• Kerajaan Tarumanegara berkembang abad ke-5 M dengan raja yang sangat terkenal yaitu Purnawarman, daerah kekuasaan meliputi Banten, Jakarta, dan Bogor. Agama yang dipeluk adalah Hindu, sedang berdasarkan berita Fa Hien, di Tolomo ada 3 agama yaitu Hindu, Budha dan kepercayaan Animisme. Perkembangan kerajaan ini tidak dapat diketahui dengan jelas, dimungkinkan pada abad ke-7 dihancurkan Sriwijaya. Hal ini dibuktikan melalui : prasasti Kota Kapur (686 M) yang menyebut bahwa Sriwijaya sedang berperang dengan Bumi Jawa (Tarumanegara) karena tidak mau tunduk pada Sriwijaya dan sejak akhir abad ke-7 Cina tidak pernah menyebut adanya pedagangan dengan Tarumanegara (To-Lo-Mo)

KERAJAAN HOLING

• Mengenai letak kerajaan Holing hingga kini belum diketahui dengan pasti hal ini disebabkan tidak diketemukannya catatan-catatan tertulis.
• Berdasarkan berita Cina (catatan I Tsing) disebutkan bahwa temannya yang bernama Hui-Ning pada tahun 664/665 pergi ke Holing untuk mempelajari agama Budha dengan seorang pendeta bernama Jnanabhadra. Juga disebutkan bahwa kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putri bernama Ratu Sima. Pemerintahannya sangat keras tetapi adil dan bijaksana. Rakyat tunduk dan taat terhadap perintah Ratu. Kehidupan masyarakatnya sangat teratur, hubungan perdagangan sudah dilakukan dengan pasar sebagai pusatnya.

KERAJAAN KANJURUHAN

Keterangan tentang kerajaan tertua di Jawa Timur ini dapat diketahui dari prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M. Prasasti Dinoyo ditemukan di desa Dinoyo di sebelah barat kota Malang. Prasasti Dinoyo berisi pendirian sebuah bangunan suci untuk Dewa Agastya, didirikan oleh Raja Gajayana. Prasasti Dinoyo ditulis dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Sansekerta. Bangunan suci itu sekarang dikenal dengan Candi Badut

KERAJAAN MELAYU

Letak : diperkirakan pusatnya di daerah ini di kanan kiri sungai Batanghari ditemukan peninggalan-peninggalan beruba candi-candi. Arca dan peninggalan-peninggalan lainnya. Seorang musyafir Cina I-Tsing namanya menyebutkan di dalam bukunya bahwa pada bad ke-7 M, Melayu telah dimasukkan ke dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

KERAJAAN SRIWIJAYA

Sumber sejarah : kerajaan Sriwijaya yang terletak di Sumatera keberadaannya dapat diperoleh dari bukti-bukti sebagai berikut :

Sumber dalam negeri
• a). Prasasti Kedukan Bukit (683 M)
Isi : Raja Sriwijaya Dapunta Hyang membawa tentara 20.000 orang berhasil
menundukkan Minangatamwan (daerah Binaga yang terletak di Jambi).
• b). Prasasti Talang Tuo (684 M)
Isi : Pembuatan Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.
• c). Karang Birahi (686 M)
Menunjukkan penguasaan daerah pedalaman di Jambi.
• d). Prasasti Kota Kapur (686 M)
Isi : Usaha penaklukan bumi Jawa. Prasasti ini ditemukan di pulau Bangka.
• e). Prasasti Telaga Batu
Isi : Kutukan raja terhadap siapa saja yang tidak taat pada raja dan melakukan
kejahatan.
Dari prasasti itu diusulkan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya selalu berpindah-pindah dari Minangatamwan ke Palembang selain prasasti terdapat sumber sejarah berupa bangunan kelompok Candi Muara Takus (Bangkinang, Riau)

Sumber asing
• a). Berita Cina abad ke-5 menyebutkan bahwa negara Kan-To-Li (Sriwijaya) mengirim utusan ke Cina.
• b). Berita I-Tsing bahwa kerajaan Sriwijaya negerinya dikelilingi oleh benteng abad ke-7 Sriwijaya merupakan pusat kegiatan ilmiah agama Budha.
• c). Berita India, berupa :
– Prasasti Ligor (775 M)
– Prasasti Nalanda (860 M)
Dari berita India ini dapat diperoleh keterangan bahwa kerajaan Sriwijaya mencapai zaman keemasan saat diperintah oleh Balaputradewa seorang keturunan Dinasti Syailendra, Jawa Tengah.

Kebesaran Kerjaan Sriwijaya didukung oleh faktor-faktor sbb :
• Letaknya strategis
• Runtuhnya kerajaan maritim Funan
• Armada laut yang kuat
• Menguasai daerah-daerah starategis (Selat Malaka, Sunda, Tanah Genting Kra)
• Melimpahnya hasil bumi
• Pusat pendidikan agama Budha di Asia Tenggara
Struktur Birokrasi kerajaan Sriwijaya
Wilayah kekuasaan Sri Wijaya lebih banyak tertuju didaerah lautan maupun jalur dan pusat perdagangan yang strategis. Kekuasaan tertinggi ditangan raja bersifat langsung dalam pengawasan ditempat-tempat yang strategis.

Masa Keruntuhan Sriwijaya
• Dari berita Cina, kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran mulai abad ke-10 sampai runtuhnya terjadi akhir abad ke-12.
• Beberapa faktor penyebabnya adalah sebagai berikut :
– Negara-negara taklukan melepaskan diri (Ligor, Tanah Genting Kra, Kelantan, Pahang, dll)
– Mundurnya perekonomian perdagangan karena bandar-bandar penting melepaskan diri.
– Di bidang militer serangan terhadap Sriwijaya terjadi dari :
– Raja Dharmawangsa (992 M)
– Kerajaan Colamandala (1017 M)
– Raja Kertanegara (Ekspedisi Pamalayu 1275)
– Kerajaan Majapahit

KERAJAAN MATARAM KUNO

Letak Kerajaan Mataram Kuno
• Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah bagian selatan, daerah intinya disebut Bhumi Mataram dengan ibu kota Medang Kamulan.
– Sumber Sejarah
• Prasasti Canggal (732 M)
• Prasasti Kalasan (778 M) *
• Prasati Kelurak (782 M) *
• Prasasti Sri Kahulunan *
• Prasasti Ratu Boko (856 M) *
• Prasasti Nalanda (860 M) *
• Prasasti Mantyasih (907 M)
• Ket. * : Menerangkan keberadaan kekuasaan Dinasti Syailendra
• Disamping prasasti, Mataram kuno banyak meninggalkan bangunan-bangunan candi baik yang bercorak Hindu (dari Dinasti Sanjaya) maupun yang bercorak Budha (dinasti Syailendra).

Pemerintahan Mataram
- Dinasti Sanjaya
• Dinasti Sanjaya berkuasa sekitar abad ke-7 dari prasasti Canggal disebutkan adanya pendirian Lingga yang merupakan lambang Dewa Syiwa, selain itu menyebutkan wilayah kekuasaan Sanjaya yaitu Medang ri poh pitu.
• Sedang pada Prasasti Mantyasih disebut nama-nama raja Dinasti Sanjaya yang berkuasa atas Mataram Kuno.

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
• Sri Maharaja Rakai Panangkaran
• Sri Maharaja Rakai Panunggalan
• Sri Maharaja Rakai Warak Balitung
• Sri Maharaja Rakai Garung
• Sri Maharaja Rakai Pikatan
• Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
• Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
• Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah

Pada akhir abad 8 kekuasaan Dinasti Sanjaya terdesak oleh Dinasti Syailendra seperti disebutkan prasasti Kalasan (778 M) bahwa Raja Panangkaran membuat candi Budha, padahal dinasti Sanjaya memeluk agama Hindu.

- Dinasti Syailendra
• Bhanu (752 – 775)
• Wisnu (775 – 782)
• Indra (782 – 812)
• Samaratungga (812 – 833)
• Pramodhawardhani (833 – 856)
• Pernikahan Pramodhawardhani dengan Pikatan (Dinasti Sanjaya menyebabkan dinasti Sanjaya mulai kokoh kembali bahkan Mataram dapat dipersatukan. Pada tahun 924 Raja Wawa memerintah dibantu Mpu Sindok sebagai Mahamantri dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.

Sistem Birokrasi
• Wilayah dibagi : wilayah pusat (merupakan daerah pusat kerajaan, istana raja, tempat para pejabat tinggi kerajaan dan wilayah watak daerah-daerah dikuasai oleh para Rakai atau Pamgat juga sebagai pejabat tinggi kerajaan)

KERAJAAN MEDANG

• Kerajaan Medang dirintis oleh Mpu Sindok pendiri wangsa Isyana di Jawa Timur. Sindok adalah menantu Wawa, telah berhasil memindahkan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dia bergelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Isyana Wikramadharmo Tunggadewa. Mpu Sindok digantikan putrinya yang bernama Sri Isyanatunggawijaya. Dia kawin dengan Lokapala punya anak bernama Makutawangsawardhana. Dia diganti putranya, Dharmawangsa dengan gelar Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa.
• Pada tahun 1016 M, terjadi peristiwa Pralaya, karena mendapat serangan dari kerajaan Wura-wuri. Kerajaan dibumihanguskan dan hanya Airlangga (putra Mahendratta) yang berhasil lolos disertai oleh Narottama, pada tahun 1919 M, Airlangga Ananta Wikramatungga-dewa, masa pemerintahannya kerajaan mencapai kejayaan. Sebagai bukti berhasil merebut kembali daerah-daerah yang pernah lepas dan menyatukan kembali kerajaan. Narottama diberi jabatan Rakrayan Kanuruhan.
• Bidang perekonomian dan budaya juga mengalami kemajuan. Antara lain dibuat bendungan Waringin Sapto utnuk pertanian. Pada tahun 1035 ditulis kitab Arjunawiwaha oleh Mpu Kanwa. Kitab ini menggambarkan kehidupan Airlangga dan dirinya sebagai titisan Dewa Wisnu. Perwujudannya dapat dilihat Arca Wisnu naik Garuda di Candi Belahan. Sepeninggal Airlangga wilayah dibagi dua yaitu kerajaan Kediri dan Jenggala.

KERAJAAN KEDIRI

- Sumber Sejarah
– Prasasti Sirah Keting (1140 M) tentang pemberian hadiah tanah kepada rakyat desa oleh Jayawarsa.
– Prasasti yang ditemukan di Tulung Agung Kertosono, berisi masalah keagamaan (Raja Bameswara 117 – 1130 M)
– Prasasti Ngantang (1135 M) tentang Raja Jayabaya memberi hadiah rakyat desa Ngantang sebidang tanah bebas pajak.
– Prasasti Jaring (1181 M) tentang Raja Gandra yang memuat sejumlah nama-nama hewan seperti Kebo Waruga dan Tikus Janata.
– Prasasti Kamulan (1194 M) tentang raja Kertajaya yang menyatakan bahwa Kediri berhasil mengalahkan musuh di Katang-katang.
– Buku Cina yang berjudul Chu Fan Chai karangan Chu Ju Kua (1220 M) yang mengambil cerita dari buku Ling Wai Taita (1778 M) karangan Chu Ik Fei tentang kerajaan Kediri pada abad ke-12 dan 13 M.

- Aspek Kehidupan politik
• Pada abad ke-10 pusat pemerintahan di Jawa Tengah dipindahkan ke Jawa Timur karena ada suatu hal, pada awalnya wilayah kekuasaan kerajaan Kediri meliputi daerah Kediri, Madiun, dan daerah bagian barat kerjaan Medang Kamulan.
• Raja-raja yang pernah memerintah :
– Raja Jayawarsa (1140 M)
– Raja Baweswara (117 – 1130 M)
– Raja Jayabaya (1135 – 1157 M)
– Raja Sarweswara dan Raja Aryeswara (tidak diketahui)
– Raja Gandra (1181 M)
– Raja Kertajaya (1190 – 1222 M)

- Kehidupan Sosial
• Pada amasa Raja Jayabaya terdapat usaha utnuk memberikan perlindungan terhadap para ahli sastra seperti penyair dan pengarang sehingga mereka bisa mengembangkan kreatifitasnya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kitab Lubdhaka yang memberikan pelajaran moral tentang tinggi rendahnya martabat seseorang tidak ditentukan berdasarkan asal dan kedudukan, melainkan berdasarkan tingkah lakunya.

- Kehidupan Ekonomi
• Kehidupan perekonomian rakyat Kediri menurut catatan para pedagang Cina yang dikumpulkan jadi kronik-kronik kerajaan yang disebutkan bahwa :
– Kediri banyak menghasilkan beras.
– Barang dagangan yang laku di pasaran pada masa itu adalah emas, perak, gading, kayu cendana, dsb.
– Letak kerajaan Kediri sangat strategis dalam pelayaran perdagangan antara Indonesia Timur dengan Indonesia Barat.

- Kehidupan Budaya
• Abad ke-12 M memiliki arti sangat penting dalam masa selanjutnya. Kerajaan Kediri banyak meninggalkan pelajaran untuk mengembangkan kerajaan diantaranya ;
– Suatu negara bisa maju jika kondisi ekonomi stabil.
– Keadaan politik harus stabil agar kekuatan bangsa tidak kurang.
– Kehidupan kebudayaan harus diperluas, untuk menambah kejayaan bangsa.
• Hasil karya sastra :
• Krisnayana, dari jaman pemerintahan Raja Jayawarsa
• Bharatayuda, karangan Empu Sedah dan Empu Panuluh
• Arjuna Wiwaha karangan Empu Kanwa
• Hariwangsa karangan Empu Pamuluh
• Bhamakarya pengarangnya tidak jelas

KERAJAAN SINGASARI

- Sumber Sejarah
• Kitab Pararaton, tentang raja-raja Singasari
• Kitab Negarakertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan raja-raja Singasari.
• Berita asing (Cina) tentang Kaisar Khubilai Khan (Cina) mengirim pasukannya untuk menyerang Singasari.
• Peninggalan-peninggalan berupa bangunan candi yang dijadikan makam dari Raja Singasari seperti Candi Kidal, Candi Jago, Candi Singasari, dsb.

- Aspek Kehidupan Politik
• Sebagai kerajaan Hindu pada waktu itu kerajaan Singasari pernah mencapai kejayaan dan merupakan cikal bakal kerjaan Majapahit.

Berikut raja-raja yang pernah memerintah di Singasari.
- Ken Arok
• Pertemputan di dekat Ganter tahun 1222 M, membawa nama Ken Arok semakin baik. Dan akhirnya Ken Arok memutuskan untuk membentuk dinasti baru yaitu dinasti Rajasa dan membangun kerajaan baru yaitu Singasari.
- Anusapati
• Setelah Ken Arok dibunuh Anusapati, tahta kerajaan Singasari dipegang Anusapati (1227 – 1248 M). Walaupun pemerintahannya berlangsung lama tapi ternyata kematian Ken Arok pun pada akhirnya tercium oleh Tohjaya yang akhirnya dengan keris yang sama dia dibunuh Anusapati.
- Tohjaya
• Pemerintahan Tohjaya berlangsung singkat (1248 M) karena kematian Anusapati akhirnya diketahui oleh Raggawuni (putra Anusapati) dan dia menuntut hak atas tahta Singasari. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan Lembu Ampel akhirnya Ranggawuni berhasil merebut tahta kerjaan dengan gelar Wisnuwardhana.
- Wisnuwardhana
• Dengan dibantu Mahesa Cempaka yang bergelar Narasinghamurti Wisnuwardhana memerintah Singasari dari tahun 1248 – 1268 M. pada tahun 1254 M Wisnuwardhana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuvaraja (raja muda) dan Wisnuwardhana merupakan satu-satunya yang tidak terbunuh.
- Kertanegara
• Raja Kertanegara (1268 – 1292 M) merupakan raja terakhir di Singasari dan dia berhasil melangkah ke luar wilayah Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita persatuan Nusantara dibawah panji kerajaan Singasari. Dan berikut adalah usaha Kertanegara guna mencapai tujuan politiknya :
– Politik Dalam Negeri
– Mengadakan pergeseran pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata digantikan oleh Aragani. Raganata diangkat menjadi Adhyaksa di Tumapel. juga Banyak Wide yang berasal dari rakyat biasa diangkat menjadi Bupati Sumenep (Madura)
– Berbudi baik pada lawan politiknya dengan mengangkat putra Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya dan Raden Wijaya (cucu Mahesa Cempaka) sebagai menantunya.
– Memperkuat angkatan perang
– Politik Luar Negeri
• Untuk mencapai cita-cita politiknya itu, Raja Kertanegara menempuh cara :
– Melaksanakan ekspedisi Pamalayu (1275 dan 1286 M) untuk menguasai Kerajaan Melayu serta melemahkan posisi kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.
– Menguasai Bali (1289 M)
– Menguasai Pahang (Malaya) dan Tanjung pura (Kalimantan)

KERAJAAN BALI

- Sumber Sejarah
– Prasasti Sanur (839 C/917 M) tentang adanya kekuasaan raja-raja dari Wangsa / Dinasti Warmadewa.
– Prasasti Calcuta, India (1042 M) tentang asal-usul Airlangga yaitu dari keturunan raja-raja Bali (dinasti Warmadewa). Raja Airlangga terlahir dari raja dayana (Bali) dengan Mahenradrata (putri kerjaan Medang Kamulan adik raja Dharmawangsa).

- Aspek Kehidupan Politik
• Mengingat sumber bukti dari Kerajaan Bali tidak lengkap, maka sistem dan bentuk pemerintahannya tidak jelas.
• Raja-raja Bali yang pernah berkuasa :
– Raja Sri Kesari Warmadewa (835 C / 913 M) adalah raja pertama dan pendiri dinasti Warmadewa.
– Raja Ugrasena (915 – 942 M) meninggalkan beberapa prasasti tentang pembebasan pajak terhadap daerah tertentu serta pembangunan tempat suci.
– Raja Tabanendra Warmadewa (tidak diketahui tahunya).
– Raja Jaya Sadhu Warmadewa (tidak diketahui tahunnya).
– Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983 M), diperkirakan bahwa dia adalah putri dari Mpu Sindok (Dinasti Isyana)
– Dharma Udayana Warmadewa (989 – 1022 M) pada masa ini penulisan prasasti-prasasti sudah dimulai dengan menggunakan huruf dan bahasa Jawa Kuno.
– Raja Marakarta (1025 M) memerintah tidak lama karena meninggal duni dan sistem pemerintahannya tidak diketahui secara jelas.
– Raja Anak Wungsu (1049 – 107 M) Raja Bali yang berhasil memepersatukan seluruh Bali.
– Raja yang sakti (tidak diketahui secara jelas)
– Raja Bedahulu (1343 M), raja terakhir Bali Kuno.
• Ketika dilancarkan ekspedisi Majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada di Bali, kerjaan Bali tidak bisa bertahan dan akhirnya menjadi bagian kekuasaan Majapahit.

- Struktur Birokrasi Kerajaan Bali
• Disebutkan dalam prasasti bertahun antara 882 M- 934 M : Raja dalam menjalankan pemerintahanya dibantu oleh badan penasehat raja dan badan-badan lain seperti Panglapuan, Somanhanda Senapati di Pangluapan.
• Pejabat dari pusat sampai daerah-daerah diangkat dan diberhentikan oleh raja serta tunduk terhadap perintahnya.

KERAJAAN PAJAJARAN

- Sumber Sejarah
– Prasasti Rakryan Juru Pangambat (923 M) ditemukan di Bogor memuat mengenai pengembalian kekuasaan Raja Pajajaran (kemungkinan kerajaan Pajajaran pernah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan di Jawa Timur atau Sriwijaya)
– Prasasti Horren (dari Majapahit) tentang penduduk dari kampung ;Horren sering tidak merasa aman, karena adanya gangguan musuh dari arah barat (kemungkinan kerajaan Pajajaran)
– Prasasti Citasih (1030 M) dibuat atas perintah Raja Jayabhupati untuk memperingati bangunan Sang Hyang Tapak sebagai tanda terima kasih raja terhadap pasukan Pajajaran, berhasil memenangkan perang melawan pasukan dari Swarnabumi.
– Prasasti Astanagede (di Kawali – Ciamis) tentang perpindahan pusat pemerintahan dari Pakwan (Pakuan) Pajajaran ke Kawali.
– Kitab Carita Kidung Sundayana menceritakan kekalahan pasukan Pajajaran dalam pertempuran di Bubat (Majapahit) dan tewasnya Raja Sri Buduga beserta putrinya.
– Kitab Carita Parahyangan menceritakan mengenai pengganti Raja Sri Baduga setelah perang Bubat bernama Hyang Wuni Sola.
Aspek Kehidupan Politik
• Raja-raja yang pernah berkuasa :
– Maharaja Jayabhupati
– Rahyang Niskala Wastu Kencana
– Rahyang Dewa Nishala
– Sri Baduga Maharaja (1357 M)
– Hyang Wuni Sola
– Ratu Samian / Prusu Surawisesa
– Prabu Ratu Dewata
Struktur Birokrasi
• Kekuasaan tertinggi ditangan raja dalam menjalankan tugas dibantu oleh Mangkubumi, di daerah-daerah dikuasai oleh Syah Bandar yang mewakili raja didaerahnya masing-masing. Untuk persiapan penggantian raja diangkat seorang putra Mahkota.

Kehidupan Sosial
• Kehidupan masyarakat Pajajaran digolongkan menjadi :
– Golongan seniman
– Golongan petani
– Golongan pedagang
– Golongan yang dianggap jahat, yaitu tukang copet, tukang tampus, begal, maling, dsb.
Kehidupan ekonomi
– Perdagangan laut
– Perdagangan darat
Kehidupan kebudayaan
• Pengaruh agama Hindu rakyat Sunda Jawa Barat dapat diketahui dari :
– Arca-arca Wisnu di daerah Ci Buaya dan arca-arca Rajarsi.
– Kitab carita Parahyangan dan kitab Sanghyang Siksakandra.
– Cerita-cerita dalam sastra Sunda Kuno bercorak Hindu.

KERAJAAN MAJAPAHIT

Sumber Sejarah
– Prasasti Butak (1294 M) dikeluarkan R. Wijaya setelah ia naik tahta yang memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan.
– Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrema menceritakan R. Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun awal perkembangan Majapahit.
– Kitab Pararaton menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit.
• Kitab Negarakertagama menceritakan tentang perjalanan raja Hayam Wuruk ke Jawa Timur

- Aspek Kehidupan Politik
• Kekuasaan kerjaan majapahit merupakan suatu massa yang paling mengesankan dalam sejarah Indonesia, karena pada masa ini Indonesia terdapat suatu kerajaan besar yang disegani oleh banyak negara asing dan membawa keharuman nama Indonesia sampai jauh keluar wilayah negara Indonesia.

– Struktur Birokrasi
• Sifat kekuasaan kerajaan teritorial dan desentralisasi. Raja memegang kekusaan tertinggi (sebagai penjelmaan dewa) dalam menjalankan tugas dibantu oleh beberapa pejabat kerajaan antara lain dewan pertimbangan kerajaan, Mangkubumi dan pejabat dibidang keagamaan
• Perjuangan Raden Wijaya
• Sejak serangan Jayakatwang atas Singasari Raden Wijaya berhasil melarikan diri ke Arya Wiraraja di Madura. Atas jasa Wiraraja, Wijaya diterima kembali oleh Jayakatwang serta akhirnya diberi tanah Tarik.
• Serangan Khubilai Khan ke Jawa dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengatur siasat menyerang Kediri. Setelah Kediri jatuh (Jayakatwang dan putranya dibawah Raden Wijaya berbalik menyerang Tartar. Dia memerintah dan mendirikan Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Dan dengan diperistrinya putri Kertanegara maka dia telah mempersatukan keluarga besar Ken Arok.
• Pada tahun 1309 M, Kertarejasa digantikan Kalagemet hingga 1328 M., masa pemerintahan Sri Jaya Negara (Kalagemet) diwarnai pemberontakan-pemberontakan :
– Ronggolawe – Nambi
– Lembu Sora – Kuti
• Saat pemberontakan Kuti itulah muncul peranan Gajah Mada tahun 1328 M. Jayanegara di bawah Banyu Tanca yang berhasil dibalas juga oleh Gajah Mada. Pengganti Jayanegara adalah Tribuana Tunggadewi (putri Gayatri 1328 – 1350 M) yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Saat itulah gajah Mada diangkat Patih Mangkubumi Majapahit dan mengucapkan Sumpah “Tan Amukti Palapa”. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk yang naik tahta pada usia 16 tahun, dengan gelar, Rajasanegara. Politik dalam negeri ditempuh dengan memusatkan kegiatan politik dan stabilitas di Majapahit, sedangkan politik luar negerinya adalah persatuan wilayah Nusantara. Melanjutkan usaha Kertanegara berhasil menggalang kerjasama dengan negara tetangga (Mitreka Strategi) Birma, Ligor, Anam, Campa, Kamboja, dan Srilangka.
– Struktur Birokrasi
• Sifat kekuasaan kerajaan teritorial dan desentralisasi. Raja memegang kekusaan tertinggi (sebagai penjelmaan dewa) dalam menjalankan tugas dibantu oleh beberapa pejabat kerajaan antara lain dewan pertimbangan kerajaan, Mangkubumi dan pejabat dibidang keagamaan

Perjuangan Raden Wijaya
• Sejak serangan Jayakatwang atas Singasari Raden Wijaya berhasil melarikan diri ke Arya Wiraraja di Madura. Atas jasa Wiraraja, Wijaya diterima kembali oleh Jayakatwang serta akhirnya diberi tanah Tarik.
• Serangan Khubilai Khan ke Jawa dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengatur siasat menyerang Kediri. Setelah Kediri jatuh (Jayakatwang dan putranya dibawah Raden Wijaya berbalik menyerang Tartar. Dia memerintah dan mendirikan Kerajaan Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Dan dengan diperistrinya putri Kertanegara maka dia telah mempersatukan keluarga besar Ken Arok.
• Pada tahun 1309 M, Kertarejasa digantikan Kalagemet hingga 1328 M., masa pemerintahan Sri Jaya Negara (Kalagemet) diwarnai pemberontakan-pemberontakan :
– Ronggolawe – Nambi
– Lembu Sora – Kuti
• Saat pemberontakan Kuti itulah muncul peranan Gajah Mada tahun 1328 M. Jayanegara di bawah Banyu Tanca yang berhasil dibalas juga oleh Gajah Mada. Pengganti Jayanegara adalah Tribuana Tunggadewi (putri Gayatri 1328 – 1350 M) yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada. Saat itulah gajah Mada diangkat Patih Mangkubumi Majapahit dan mengucapkan Sumpah “Tan Amukti Palapa”. Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk yang naik tahta pada usia 16 tahun, dengan gelar, Rajasanegara. Politik dalam negeri ditempuh dengan memusatkan kegiatan politik dan stabilitas di Majapahit, sedangkan politik luar negerinya adalah persatuan wilayah Nusantara. Melanjutkan usaha Kertanegara berhasil menggalang kerjasama dengan negara tetangga (Mitreka Strategi) Birma, Ligor, Anam, Campa, Kamboja, dan Srilangka.

Kehidupan Ekonomi
• Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting :
– Sebagai kerajaan produsen
– Sebagai kerajaan perantara
• Dengan demikian, hubungan kerajaan Majapahit dengan negara tetangga telah membawa keuntungan besar bagi kerajaan Majapahit.

Kehidupan Budaya
Candi :
• – Candi Penataran
• – Candi Egalwangi dan Surawana (Pare, Kediri)
• – Candi Suwentar (Blitar)
• – Candi Sumberjati (Blitar)
• – Canti Tikus (Trowulan)
Sastra
- Sastra zaman Majapahit awal, diantaranya :
– Kitab Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca
– Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular
– Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Tantular
– Kitab Kunjarakarna tidak diketahui pengarangnya
– Kitab Parthayajna, tidak diketahui pengarangnya
- Sastra zaman Majapahit akhir :
– Kitab Pararaton mengenai riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit
– Kitab Sudayana mengenai peristiwa bubat
– Kitab Solandaka mengenai pemberontakan Semi
– Kitab Ranggalawe mengenai pemberontakan Ranggalawe
– Panji Wijaya Krama mengurangi riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja.
– Kitab Usana Jawa, tentang penaklukan P. Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan Raja yang bernama Maya Denawa.
– Kitab Usana Bali, tentang kekacauan di Pulau Bali akibat keganasan Maya Denawa yang akhirnya dibunuh oleh dewa-dewa.

UJIAN PRAKTIK III

UJIAN PRAKTIK EXCEL AZIZ

 

Speedtest aziz 9a

SMP N 2 Pati

Aku bersekolah di smp 2 pati,yang letaknya di daerah pati jawa tengah jalan ronggowarsito gang 7 pati.sekolah ini termasuk sekolah berstandar internasional.di sekolah ini terdapat 21 kelas yaitu kelas VIIA-VIIG,VIIIA-VIIIG,dan kelas IXA-IXG.dan sekolah ini termasuk sekolah faforit di daerah pati.

Sekolah smp 2 pati juga telah mendapatkan beberapa prestasi yaitu antara lain lomba KIR,TENIS LAPANGAN ,TENIS MEJA,DLL. Dan juga sekolah ini mendapatkan ranking 2 sekabupaten pati setelah kalah bersaing dengan smp 3 pati.smp 2 pati juga mendapatkan ranking 1 di bidang matematika.

kisah saridin

Pada zaman dahulu, di daerah Kudus tinggallah Kiai dan Nyai Gede Keringan bersama seorang gadisnya bernama Ni Branjung. Setelah Ni Branjung tumbuh menjadi gadis remaja yang molek, timbullah kerinduan Kiai Keringan hendak mengasuh seorang anak lelaki yang tampan. Untuk. itulah Kiai Keringan dan istrinya selalu bertafakur, memohon ridha Allah agar dikabulkan keinginannya. Berkat doanya yang khusyuk, pada suatu hari ditemukanlah seorang bayi lelaki dengan perantaraan gaib Sunan Kudus yang mengatakan bahwa sesungguh­nya bayi itu adalah putra Sunan Muria, salah seorang penyiar agama Islam yang sudah terkenal. Bayi itu ber­selimutkan kain kemben yang berasal dari kain penutup dada sang ibu.

“Asuhlah dengan bijak, agar kelak menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan agama. Adapun kemben itu kelak akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi setup bahaya yang mengancamnya,” kata Sunan Kudus seperti dimimpikan oleh Kiai Gede Keringan.

Tentu saja Kiai dan Nyai Gede Keringan sangat berbahagia dan berjanji akan melaksanakan amanat itu sebaik-baiknya. Sadar bahwa mereka sendiri hanyalah orang desa, bersepakatlah untuk memberi nama sang Dengan penuh kasih sayang, suami istri itu men­dewasakan Ni Branjung dan Saridin sebagai kakak beradik hingga keduanya berumah tangga.

Sepeninggal sang Kiai, Saridin dan Ni Branjung hanya memperoleh harta warisan berupa sebatang pohon durian yang selalu lebat buahnya. Selama bertahun-tahun mereka pun bersepakat membagi hasil penjualan buah durian itu secara adil untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga masing-masing. Akan tetapi, suami Ni Branjung merasa tak pugs dan ingin memiliki hasil sebanyak­banyaknya dari pohon itu. Pada suatu hari, berkatalah dia kepada Saridin.

“Adikku, mulai sekarang kita menjual durian itu sendiri­sendiri supaya tidak repot menghitungnya. Kamu berhak menjual seluruh durian yang jatuh di siang hari, dan saga akan menjual seluruh durian yang jatuh setiap malam.”

Mendengar tawaran itu, tahulah Saridin akan keserakahan kakak iparnya; biasanya durian yang masak akan berjatuhan di malam hari. Namun, Saridin dengan ikhlas menerima tawaran itu karena dia pun yakin akan kebesaran dan keadilan Tuhan dalam membagikan rezeki-Nya. Ujarnya dengan lembut, “Baiklah Kakak, kalau hal itu memang sudah menjadi keinginanmu. Mulai besok aku sendiri akan memungut durian yang jatuh di siang hari.”

Keikhlasan hati Saridin mendapatkan ridha Allah sehingga banyaklah durian masak yang berjatuhan di siang hari. Hal itu menjadikan panasnya hati suami Ni Branjung yang menyadari siasatnya tidak berhasil. Selang beberapa waktu kemudian, datanglah suami Ni Branjung ke rumah Saridin untuk bertukar waktu. Harapannya ialah memperoleh banyak durian yang berjatuhan di siang hari. Akan tetapi, harapan itu justru menambah kekecewaannya karena ternyata tak banyak durian masak yang jatuh di siang hari.

Pada suatu malam, timbullah niatnya yang jahat. Dengan mengendap-endap dan berkerudung kain loreng, pergilah suami Ni Branjung ke pohon durian itu. Setelah melihat datangnya Saridin maka berteriaklah suami Ni Branjung menirukan auman harimau loreng dengan maksud menakuti-nakuti Saridin. Namun, apakah yang terjadi?

Saridin yang terkejut tidak segera berlari, malahan melepaskan senjata goloknya dengan tangkas sehingga tewaslah suami Ni Branjung. Tentu saja kejadian itu menggegerkan banyak orang, dan segera dilaporkan oleh punggawa desa kepada Adipati Pemantenan di Kadipaten Pati.

Dalam persidangan di kadipaten, diputuskan hukuman gantung bagi Saridin karena terbukti bersalah membunuh kakak iparnya. Namun, Saridin membela diri dengan santun, “Ampun Kanjeng Adipati, niat hamba tidaklah membunuh saudara hamba sendiri, tetapi membunuh seekor harimau yang mengancam diri hamba. Oleh karena itu, hamba pun mohon dibebaskan dari hukuman

itu. 11

Mendengar alasan itu, sang Adipati merasa ragu hendak melaksanakan hukumannya. Namun, selaku seorang penguasa, sulitlah dia mencabut keputusan itu. Kemudian, sang Adipati berkata dengan lembut, “Baiklah Saridin, hukuman itu hanyalah sebuah tipuan yang berupa ayunan. Jadi, wajiblah kamu menerimanya.”

Saridin percaya sepenuhnya pada kata sang Adipati, padahal niat Adipati Pemantenan ialah melaksanakan hukuman gantung itu dengan sesungguhnya demi kewibawaan seorang penguasa. Akan tetapi, hukuman itu menjadikan banyak orang terheran-heran. Di matamereka, Saridin justru tampak tersenyum-senyum di tiang gantungan seperti seorang bocah yang sedang berayun­ayun.

Atas perintah sang Adipati, Saridin dibatalkan dari hukuman gantung dan dimasukkan ke sebuah penjara yang kokoh besi-besinya. Saridin pun menurut perintah itu sambil memohon sekali-sekali diizinkan pulang menjenguk istrinya. Sekian hati kemudian, Saridin memohon kesempatan pulang ke rumahnya. Akan tetapi, jangankan dibukakan pintu oleh para sipir penjara, bahkan izin pun tidak diperolehnya. Sadarlah Saridin bahwa dirinya telah tertipu.

Pada suatu malam yang sepi, Saridin mengamalkan ilmu kesaktiannya sehingga terbebaslah dari rumah penjara itu tanpa diketahui para penjaga yang selalu siaga setiap saat. Akan tetapi, lelaki itu tidak langsung pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan, terpikir olehnya hendak berguru kepada Sunan Kudus yang saat itu sudah terkenal harum namanya sebagai seorang penyiar Islam.

Di pesantren Sunan Kudus, terkenallah Saridin yang sakti dengan tindakannya yang aneh-aneh, seperti menimba air sumur dengan keranjang dan menyelinap ke dalam kakus. Hampir semua tindakan Saridin menjadikan sedih dan susahnya Sunan Kudus yang sadar bahwa kesaktian Saridin menimbulkan banyak huru-hara yang meresahkan orang banyak. Pada suatu hati, berkatalah Sunan Kudus, “Hai, Saridin, engkau adalah muridku yang gagah perkasa dan sakti. Tetapi, ketahuilah bahwa di sini bukan tempatnya orang memamerkan kesombongannya. Kalau tidak mau berubah sikap, pergilah dari pesantren ini.”

Mendengar nasihat itu, Saridin tetap tak beranjak dari tempatnya sehingga diusirlah beramai-ramai oleh para santri dan penduduk sekitarnya. Setelah merasa terdesak,barulah Saridin terpaksa berlari sambil mengejek orang­orang yang mengejarnya.

Ketika sampai di sebuah pasar, Saridin terns saja’ berlari dan mengumpat-umpat sehingga mengejutkan orang-orang yang melihatnya. Banyak perempuan di pasar itu yang segera bubar karena ketakutan. Di antara mereka ada yang bertanya kepada Sunan Kudus, “Siapakah gerangan orang gila yang mengganggu pasar itu, Kanjeng Sunan?”

“Siapa yang dimaksud? Apakah lelaki yang gagah perkasa itu? Oh, dia bukan orang gila. Dia itu seorang muridku yang pandai dan sakti. Sayang sekali, orangnya sombong dan nakal. Namanya Syekh Jangkung, sedangkan aslinya entahlah. Dulu orang-orang me­manggilnya Saridin. Biarlah dia pergi, mudah-mudahan masih sempat menyadari kesalahannya.”

Orang pun kagum menyaksikan kebesaran hati Sunan Kudus dan segera melupakan kenakalan-kenakalan Saridin yang kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Jangkung.

Mei 11, 2009
Kategori: Cerita Rakyat . Yang berkaitan: r . Penulis: nurulhilal

candi prambanan


Candi Rara Jonggrang
atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.

Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m.

Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.

Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwasang Penghancur, Batara Wisnusang Pemelihara dan Batara Brahmasang Pencipta.

Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya.

Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang.

Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu.

Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.

BOROBUDUR

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Nama Borobudur
* 2 Struktur Borobudur
* 3 Relief
* 4 Arca Buddha
* 5 Tahapan pembangunan Borobudur
* 6 Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur
* 7 Referensi
* 8 Lihat pula
* 9 Daftar pustaka
* 10 Pranala luar

[sunting] Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. [1] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.[2]
\(sumber:wikipedia)

second post

ternyata memang benar apa yang dikatakan guruku,karena jika indonesia begini terus maka akan menjadi apa bangsa yang kita cintai ini.banyak orang pintar tetapi kepintarannya tidak digunakan sebaik mungkin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.